WONOSOBO - Memasuki
pertengahan program Kuliah
Pengabdian Masyarakat (KPM)
Unsiq Wonosobo, Pusat
Penelitian, Penerbitan dan
Pengabdian Masyarakat (P3M)
melalui Badan Pelaksana KPM
Unsiq menggelar program
penelitian potensi lokal.
Hal itu terungkap dalam dengar
pendapat di Balai Desa
Kemiriobmo Kecamatan Kaliwiro.
Dalam kesempatan tersebut
hadir Ketua Badan Pelaksana
KPM Nurul Mubin MSi Guspul SE
MM (Dosen Fakultas Ekonomi),
Muthoíam Al-Wahid SHi (Dosen
Fak Syari’ah dan Hukum Islam)
serta Lutfan Muntaqo SH MSi
(Kasubag akademik bidang
Kemahasiswaan).
Mahasiswa menyampaikan
berbagai program unggulan
potensi lokal untuk
pengembangan ekonomi warga
yang belum tergarap secara
maksimal. Beberapa temuan
yang diteliti antara lain bosel
stike balado di Desa Kaliwiro,
makanan cimplung berbahan
dasar singkong di Desa
Kemiriombo, dan kue gumpur
yang gurih, manis, serta renyah
di Desa Sukoreno.
Sangat Unik Endang S (23)
mahasiswa Fakultas Syariíah
Unsiq mengatakan, makanan
khas Desa Sukoreno seperti kue
gumpur memiliki keunikan, baik
dari segi nama maupun
sejarahnya. Nama kue gumpur
berasal dari nama Dusun
Gumiwang Desa Sukoreno dan
Singapura. Gabungan nama
Gumiwang dan Singapura itulah
yang menjadi sebutan kue
gumpur. Nama dilatarbelakangi
masyarakat Dusun Gumiwang
banyak yang bekerja di
Singapura.
“Nama itu ditemukan mantan
tenaga kerja migran asli
Gumiwang,” katanya.
Di Desa Kemiriombo juga
terdapat potensi lokal makanan
khas cimplung berbahan dasar
singkong. Makanan ini patut
dikembangkan mengingat
singkong mudah didapat di
kawasan tersebut. Hanya butuh
polesan lebih sehingga makanan
tersebut memiliki nilai jual lebih.
Titik Zubaidah (22) mahasiswa
Jurusan Managemen
mengatakan, penelitan dan
pengembangan ke depan perlu
difokuskan pada sistem
pengelolaan dan pemasaran,
sehingga potensi lokal bisa
menjadi solusi peningkatan
ekonomi warga. Hal itu sekaligus
menjadi produk kuliner khas
Wonosobo.
Mahasiswa juga menyampaikan
program unggulan pengelolaan
sampah, dengan pemanfaatan
sampah plastik untuk
pemberdayaan masyarakat.
Arifin (30) salah satu peserta
KPM dari Desa Tracap
mengatakan, pengelolaan
sampah akan menjadi program
unggulan karena pengelolaan
kesadaran mengelola sampah
baru di perkotaan. Padahal
sampah di desa justru bisa diolah
menjadi kerajinan ataupun
pupuk organik.
(suara merdeka, 28 okt 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar